Investasi emas atau saham sering jadi dilema klasik bagi banyak orang baru ingin mulai berinvestasi. Rasa takut rugi dan bingung memilih instrumen sering muncul, apalagi dengan Angka literasi keuangan nasional 2025 OJK yang baru mencapai 38,52% pada 2025 jauh lebih rendah daripada literasi keuangan umum.
Padahal, memahami karakter tiap instrumen jauh lebih penting daripada ikut tren. Artikel ini akan membahas investasi emas atau saham secara ringan dan berbasis data.
Emas: Aset Stabil yang Banyak Peminat
Bicara soal aset aman, emas selalu punya tempat istimewa di hati masyarakat baik bagi pemula maupun investor berpengalaman. Alasannya sederhana: mudah dipahami, mudah dijual, dan nilainya cenderung naik seiring waktu.
Berdasarkan data kenaikan harga emas 5 tahun terakhir, harga emas di Indonesia melonjak dari sekitar Rp900.000 per gram pada 2020 menjadi Rp1,9 juta di pertengahan 2025 naik lebih dari dua kali lipat. Secara global, pemicu lonjakan termasuk ketegangan geopolitik dan inflasi, sehingga investor mencari aset lindung nilai.
Menariknya, harga emas justru menguat saat ekonomi tidak pasti. Inilah keuntungan investasi emas bukan sekadar logam mulia, tapi representasi dari kepercayaan dan stabilitas nilai yang mampu bertahan bahkan saat dunia bergerak penuh ketidakpastian.
Saham: Risiko Lebih Besar, Potensi Keuntungan Lebih Tinggi
Berbeda dari emas yang cenderung stabil, saham menawarkan ruang pertumbuhan yang lebih besar bagi mereka yang siap belajar dan sabar menghadapi risiko.
Secara sederhana, membeli saham berarti memiliki sebagian kecil dari sebuah perusahaan dan keuntungan bisa datang dari dividen (pembagian laba) atau capital gain (kenaikan harga saham dari waktu ke waktu).
Rata-rata Return on Investment (ROI) saham blue chip berkisar 10-15%, lebih tinggi daripada deposito dan lebih stabil daripada growth stocks yang fluktuatif. Menariknya, investor yang konsisten menabung saham selama 10 tahun bisa mengalahkan inflasi hingga 2-3 kali lipat.
Meski demikian, penting memahami risiko investasi saham karena pasar bisa berubah cepat. Saham bukan investasi jangka pendek ini adalah arena bagi mereka yang berkomitmen pada disiplin, riset, dan kesabaran untuk bertumbuh bersama nilai bisnis yang mereka miliki.
Perbandingan Emas dan Saham, Mana yang Lebih Baik?
Bagi investor pemula, memahami perbandingan emas dan saham membantu menentukan langkah yang paling sesuai dengan profil risiko.
Emas terkenal stabil, dengan return emas 14,25% per tahun dalam sepuluh tahun terakhir ideal untuk penyimpanan nilai dan investasi jangka pendek. Sementara itu, saham menawarkan potensi pertumbuhan lebih tinggi, dengan rata-rata imbal hasil historis global 8-10% per tahun.
Opsi ini cocok untuk mereka yang berpikir jangka panjang.
| Aspek | Emas | Saham |
| Risiko | Rendah | Sedang–tinggi |
| Likuiditas | Tinggi | Tinggi (jam bursa) |
| Modal awal | Rendah | Bervariasi |
| Imbal hasil | Stabil | Fluktuatif tapi tinggi |
| Jangka ideal | Pendek–menengah | Menengah–panjang |
Tidak ada yang mutlak terbaik di antara lainnya. Hanya pilihan yang paling sejalan dengan tujuan dan toleransi risiko Anda.
Diversifikasi: Gabungkan, Bukan Pilih Salah Satu
Kabar baiknya, Anda tak harus memilih antara emas atau saham. Keduanya bisa jalan berdampingan sebagai diversifikasi aset dalam satu portofolio portofolio investasi pemula yang seimbang. Strategi paling populer untuk profil konservatif adalah 60% emas dan 40% saham, mengingat kombinasi ini memberi stabilitas sekaligus ruang pertumbuhan.
Investor dengan portofolio campuran emas-saham terbukti lebih tahan terhadap gejolak pasar daripada mereka yang hanya memegang satu aset. Ini bukan hanya strategi bertahan, tapi cara cerdas mengoptimalkan potensi keuntungan investasi emas tanpa stres berlebihan akibat risiko saham. Untuk membangun investasi jangka panjang yang sehat, kuncinya ada pada keseimbangan.
Mulai dari Langkah Kecil
Bagi pemula, pertanyaan seperti “apakah lebih baik berinvestasi pada emas atau saham” sering muncul sebelum benar-benar mulai. Jawabannya: bukan tentang mana yang lebih baik, tapi seberapa siap Anda memahami risikonya.
Langkah paling penting adalah menetapkan tujuan dan jangka waktu investasi. Setelah itu, Anda bisa start small bahkan Rp100.000 emas digital atau reksa dana saham sudah cukup untuk belajar. Gunakan aplikasi resmi yang terdaftar OJK agar aman.
Menariknya, pada pertengahan 2025 jumlah investor pasar modal Indonesia sudah menembus 17 juta orang, tanda bahwa minat investasi terus tumbuh. Jadi, pahami dulu sebelum menaruh uang karena pemahaman adalah bentuk investasi pertama paling menguntungkan.
Emas & Saham: Sekutu Finansial
Pada akhirnya, emas dan saham bukan dua kubu yang harus dipertentangkan. Emas memberi stabilitas ketika ekonomi bergejolak, sementara saham membuka peluang pertumbuhan jangka panjang. Keduanya bisa saling melengkapi dalam perjalanan keuangan yang sehat dan berimbang.
Bukan seberapa cepat Anda untung, tapi seberapa berani Anda mengambil langkah pertama. Jika Anda sudah punya rencana investasi tapi butuh tambahan modal, pinjaman jaminan BPKB mobil dari MUFDana bisa bantu wujudkan langkah Anda dengan aman dan terencana.
Ingat, investasi terbaik bukan yang paling cepat untung, tapi yang paling konsisten Anda jalani termasuk saat memilih investasi emas atau saham.
